Masih Sepakbola Indonesia

Diakui memang AFF lagi-lagi gagal di bawa ke tanah air. Indonesia gagal untuk yang ke-4 kalinya dalam partai puncak Piala AFF. Melawan Malaysia dengan agregat 4-2, 3-0 di bukit Jalil dan 2-1 di Senayan. Sebenarnya Malaysia tidaklah lebih baik dari Indonesia, akan tetapi diakui memang mereka lebih siap, dan itu menjadikannya pantas menyandang predikat Juara.
Ada beberapa hal yang membuat kekalahan ini terasa menyesakkan bagi rakyat Indonesia.

  • Ekspektasi Berlebih Insan Media Indonesia.

Boommmm.. Indonesia menang melawan Malaysia 5-1 pada partai pembuka Piala AFF lantas apa yang terajadi, semua mata tertuju pada kiprah timnas. Nama-nama seperti Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Firman Utina menjelma selayaknya superstar. TV, Radio, Surat kabar berlomba-lomba menjadikannya headline.
tapi.. tapi…
itu belum saatnya..
itu sama saja seperti Berpesta sebelum benar-benar juara. dan ketika Timnas kalah, mereka kembali membumi.

  • Perilaku bodoh Federasi.

Semua mata tertuju pada Bukit Jalil, Menantikan lagi kiprah Timnas yang secara gemilang menyapu bersih semua partai yang dilakoni.  Bukannya memberikan kesempatan para pemain timnas untuk konsentrasi penuh pada pertandingan itu. PSSI malah “membebani” timnas dengan serangkaian acara yang sama sekali gak berhubungan dengan sepakbola. Sampai saat ini saya belum menemukan urgensi acara makan siang dengan salah satu petinggi partai sebelum pertandingan Final. Sungguh!!!

Secara blak-blak an itu diakui oleh pelatih kepala timnas Alfred Riedl pasca kekalahan di Bukit Jalil. dan dipertegas lagi dengan tulisan Bambang pamungkas ini.

Saya secara tegas berpendapat bahwa PSSI lah biang kekalahan Indonesia ini. bukan laser, bubuk pembuat gatal ataupun Provokator yang selama ini dikambing hitamkan PSSI.

Revolusi di tubuh PSSI adalah langkah pertama agar Indonesia berprestasi. No Excuse !!!