Saya Bercerita Tentang Merapi2 (Kesewenang-wenangan Media dan Pemerintah)

Meskipun erupsi merapi ini sudah bisa dikatakan sebagai bencana besar yang menuntut banyak pihak untuk berpartisipasi dalam tanggap bencana. Akan tetapi saya melihat ada beberapa bentuk kesewenang-wenangan beberapa pihak. Ironisnya pihak tersebut adalah pihak yang seharusnya menjadi panutan dan pedoman bagi masyarakat.

  • Kesewenang-wenangan media.

Ingat “kondang”nya TVon* dan S*let?

jika belum berikut ulasan singkatnya..

Sudah tentu didalam penanganan bencana darurat  diperlukan otak yang dingin untuk menghindari kepanikan atau  meminimalisir kekacauan. Akan tetapi TVon* justru sukses menebar kepanikan dimana-mana. Efeknya pada tanggal 5 November 2010 di jakal bawah ( km.5-7) penduduk banyak berhamburan keluar memenuhi jalan-jalan yang tentu saja mengganggu jalur evakuasi baik pengungsi dan ambulans yang harus bolak-balik.

Singkatnya, peduduk yang harusnya aman ditempatnya justru malah dibuat panik dan mengganggu proses evakuasi.

Ada juga cerita tentang S*let.

Disalah satu segmen edisi merapi terdapat pernyataan kontroversi, presenter Fenny Rose membuat pernyataan yang menyebut bahwa Jogja adalah kota malapetaka dan pada tanggal 8 November 2010 akan terjadi bencana besar dengan jarak jangkauan mencapai 60 km ( sumber Kompas).

Sontak pernyataan tersebut membuat bencana baru seperti apa yang dituturkan di twitter @budhihermanto . Karena pernyataan tersebut banyak relawan JM yang ditelpon oleh keluarganya untuk segera pulang ke kampung halamannya (termasuk saya :p).

Untungnya, KPI segera bertindak dengan tidak mengijinkan lagi Sil*t tayang di televisi dan redaksi Sil*t segera meminta maaf, sehingga sedikit mengurangi keresahan.

  • Kesewenang-wenangan pemerintah:

Ada cerita saat evakuasi tanggal 5 November 2010 pengungsi di Keputran Kemalang menuju ke Dodiklatpur Klaten. waktu itu sekitar pukul 15.00 saya masih berada di tenda sembari memantau Pos pengamatan Balerante Induk via HT. Jelas disana belum ada terdengar perintah dari pihak balerante untuk segera mengevakuasi posko pengungsian Keputran. Nyatanya pengungsi sudah bergerombol berhamburan memasuki truk untuk segera evakuasi. dan hiruk pikuk kepanikan warga juga sudah terlanjur terjadi. Usut punya usut ternyata komando ini berasal dari pihak kecamatan, yang anehnya tidak satupun posko yang dikoordinasikan untuk segera dilakukan evakuasi, Jangankan di koordinasikan bahkan diberitahukanpun tidak.

Masalah belum berhenti sampai disitu, di posko baru Dodiklatpur Klaten. sebanyak 5000an pengungsi pindahan dari Keputran tadi terancam kelaparan, karena ternyata instruksi untuk evakuasi ke Dodiklatpur tidak diimbangi dengan persiapan logistik setidaknya untuk makan malam pengungsi. Itu sempat membuat Komandan Kompleks Dodiklatpur bapak Wahyu ketar-ketir. Beruntung dengan segala kesigapan posko TSD dan JM untuk mencari bantuan berupa #NASBUNG kebutuhan makan pengungsi malam itu terpenuhi.Malah kemudian terjadi #SURPLUS.

Menpora Andi Malarangeng : “Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah cukup sebenarnya, makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam,” kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). ( detik.news)

Padahal saat itu yang terjadi di posko Dodiklatpur, pengungsi disana sebanyak hampir 7000, sementara dapur umum hanya sanggup memberikan 5000 bungkus tiap kali jam makan. Dengan kata lain butuh 2000 lagi nasi bungkus tiap kali jam makan.

“ya, bagaimana kami ndak tersinggung mendengar ucapan entheng klentheng-klentheng bapak”