Saya Bercerita Tentang Merapi1 (Mirisnya Keadaan Pengungsi)

Seperti yang kita tahu, erupsi merapi telah terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 Menyisakan banyak cerita dan kesedihan, Baik bagi yang merasakan dampak secara langsung  maupun yang tidak. Ratusan ribu orang berbondong-bondong mengungsi mencari tempat aman meninggalkan kampung mereka.

Saya adalah salah seorang korban gempa 2006, juga pernah merasakan seperti apa menjadi pengungsi , dengan segala probematikanya. Namun hal ini sama sekali berbeda dengan bencana merapi ini. Dulu kami yang hanya mengungsi diluar rumah saja, sedangkan sekarang mereka harus meninggalkan rumahnya berpuluh-puluh kilo, bahkan sampai ada titik pengungsian di Gunungkidul yang notabene 60 km dari puncak merapi.

Merasa berhutang budi pada seseorang yang sungguh saya tidak kenal sebelumnya (relawan gempa 2006). Saya merasa terpanggil untuk balas membantu saudara-saudara saya di lereng-lereng merapi. Seperti Cidhuk bersambut, diwaktu itu saya menemukan link form pendaftaran relawan  Jalin merapi melalui akun twitternya @jalinmerapi. singkat cerita bergabunglah saya dengan Jalin merapi yang mungkin nanti akan lebih sering disebut JM.
Di posko pengungsian, saya merasakan banyak hal yang sungguh membuatku mengelus dada. Merasa sangat menyesal karena tidak menyukuri apa yang ada. Berikut ada beberapa fakta diposko pengungsian yang mungkin akan menggerakkan hati anda.

  • Di Kemalang Klaten, pengungsi sekitar 5.000 orang berada di barak-barak pengungsian berupa tenda-tenda komando/ tenda pleton. Jika terjadi hujan, yang tidak lebat sekalipun keaadaan menjadi sangat memprihatinkan. banyak air masuk tenda, entah lewat bawah atau karena bocor atas. Ribuan pengungsi terpaksa tidak bisa tidur karena keadaan alas tidur yang sudah tergenang. Pemandangan Ibu-Ibu menggendong anaknya atau para lansia yang seharusnya sudah mulai menikmati masa tuanya, berdiri sepanjang malam atau setidaknya sampai alas tidur sudah bisa digunakan menjadi pemandangan biasa.
  • Di salah satu posko, dimana ada beberapa pengungsi manula. Ada gerakan pembagian roti oleh salah satu relawan ada percakapan seperti ini :

relawan : ” mbah kerso roti?” ..

pengungsi : ” Kulo niku mboten gadhah arto mbak … ”

*speechless

  • Ada juga cerita dari Keputran, Pada saat hujan deras selama lebih dari 4 jam. Sekitar pukul 16.00, dua Bapak-Bapak menghampiri posko kami, dengan nada agak malu-malu minta makan. Saya lupa bagaimana kata-kata persisnya. yang saya ingat saat itu nasi kami juga sudah habis jadi mereka terpaksa membuat mie instan. Ternyata kedua bapak itu, adalah pengungsi yang baru saja dievakuasi dari Dompol, dan belum sempat didaftar oleh dapur umum setempat sehingga mereka hari itu belum dapat jatah makan.
  • Terakhir diposting kali ini adalah cerita pada saat dinihari tanggal 5 November 2010 pada saat terjadi erupsi besar kedua. Saat itu tengah malam mulai terdengar suara dentuman berentetan keras sekali dari arah merapi. Petugas pengamatan pun mulai mengingatkan petugas lapangannya untuk segera mencari titik aman, sirine bahaya sudah dibunyikan. dan di infokan diatas telah terjadi kebakaran dikarenakan travi-travo listrik meledak dan aliran sungai Gendol sudah berwarna merah pijar. Ternyata kepanikan juga terjadi di Posko pengungsian. Banyak pengungsi terjaga dan bersiap-siap apabila dilakukan evakuasi ditempat yang lebih aman lagi. Sesaat setelah itu sekitar jam 03.30 WIB saat suara sudah mulai tenang dan pengungsi juga sebagian sudah kembali ke barak masing-masing. Tiba-tiba ada suara mobil TNI melintas masuk ke Lapangan, sontak beberapa pengungsi langsung terbangun dan berteriak.

” napa bade di Evakuasi Pak?? ”

MasyaAllah, ternyata dalam tidurnya pun pengungsi-pengungsi ini juga tidak tenang

Berikut cerita dibalik posko pengungsian. dan saya yakin cerita-cerita diatas belum apa-apa dan masih banyak lagi cerita miris mengenai pengungsi merapi. Apapun caranya mari Peduli. ringankan sedikit beban mereka..