Ada yang Salah dengan Porsi Pemberitaan Media

anak kecilMasih Ingat tentang hebohnya kasus Ryan si penjagal, atau berita penangkapan seseorang yang sepertinya Noordin M top ?

Saat itu hampir semua media berlomba-lomba meng’headline’kan berita tersebut segamblang-gamblangnya.

Ada lagi pemberitaan Manohara,  berminggu-minggu beritanya menjadi santapan lezat sehari-hari…

Lantas bagaimana jika saya menyebut seorang Sakti Paranten, atau Andres Dwi Maryanto. Saya yakin hampir semuanya belum pernah mendengar itu. padahal jelas prestasi mereka lebih mentereng dan membanggakan daripada ‘prestasi’ Ryan, Noordin M Top atau Manohara.

Sakti Peranten adalah seorang sineas yang memenangi International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCE) kategori Screen Entrepreneur yang digelar di London. Untuk menjadi juara dia berhasil menyisihkan kompetitor dari China, India, Lithuania, Meksiko, Nigeria, Filipina, Polandia, Slovenia dan Thailand. dengan demikian Indonesia menjadi satu-satunya peraih penghargaan ini.

Satu nama lagi yaitu Andres Dwi Maryanto salah satu anggota tim Olimpiade matematika Internasional bersama Aldrian Olbaja, Fahmy Fuady, Joseph Andreas, Saadah Sajana Carita yang saat itu berhasil meraih meraih perak dan dua perunggu serta dua penghargaan ‘honourable mention’.

Ironis sekali jika membayangkan rakyat Indonesia lebih sering dijejali dengan cerita tentang kriminalitas,terorisme,  Perceraian, Kontroversi atau hal negatif lainnya kemudian ditutup pandangannya pada berita tentang Prestasi, Pendidikan, Keteladanan atau hal positif yang lain.

Dengan keadaan seperti ini lambat laun akan mempengaruhi paradigma masyarakat tentang Indonesia. Tentunya bukan Indonesia sebagai negara berprestasi melainkan Paradigma Indonesia sebagai negara teroris dan kontroversi.

Demi Indonesia masa depan kini saatnya setiap elemen masyarakat, insan media dan juga pemerintah merenungkan kembali keadaan yang kurang tepat ini. Kembali bermawas diri memikirkan nasib bangsa dan negara di masa depan.