terjepit diantara cita dan kemampuan

Saya masih disini terjebak diantara bangunan-bangunan tinggi sebuah cita. Dan entah kenapa semakin kukumpulkan segenap tenaga untuk mendaki semakin meninggi pula bangunan-bangunan itu. Hampir ku terjatuh kebawah beberapa kali, tapi selama ini masih ku tetap jaga keteguhan ini. Karena saya masih ( ingin ) percaya di atas bangunan itu tersedia singgasana untukku, dan hanya untukku. Kaki tanganku sudah terlampau kelu untuk menjangkau tangga demi tangga yang menuju kepuncak itu, perasaan ini terus mendorongku untuk kembali dan kembali menggerakkan kaki tanganku.
Hari ini saya menantikan seseorang yang sangat berarti. Seseorang yang ingin sesegera mungkin saya kabari ketika saya sudah mencapai puncak bangunan ini, ya pasti dengan mahkota kebanggaan yang besar dan gemerlap. Dan dia hanya secuil orang, masih banyak orang yang akan kutunjukkan mahkotaku.
Hari ini saya ingin mempercayai satu hal bahwa gak ada yang bisa menghentikanku meskipun kaki tanganku ini sudah patah sekalipun. Karena saya yakin bahwa saya masih punya keyakinan untuk tetap bergerak, menggantikan kaki tanganku yang patah menjadi dua kali lebih kuat daripada semula.
Dan saya bisa…

“ orang-orang besar selalu berpegang pada kerendahan hati, sehingga membuatku malu pada apa yang telah kulakukan selama ini “…